Home » » Teropong kertas ... next ..sinyal keletihan

Teropong kertas ... next ..sinyal keletihan

Posted by Yoan logic
langit biru, Updated at: 10:56:00 AM

Posted by Yoan logic on Monday, February 28, 2011

Ramah
Manis
Sebahu
Tak berponi
Seperti kembang awan pink^^
Berusaha mengingatnya ,
sebentar lagi aku akan beranjak pergi
melepasi mimpi satu- persatu
menggantung angan-angan
berbaring dipelukan orang lain
dan berusaha tak pedulikan lagi

tapi langit itu melewatiku lagi
..kembali…
Tersenyum,sejuk,hampa,seperti cerita
Lagi-lagi kata itu yang kudengar”suatu saat nanti”
Saat itu kami menceritakan kalian lagi
Untuk banyak malam seminggu itu
Semuanya ingat kumainkan gitar
Aku ingin bernyanyi lagi dengan mu
Entah apa yang kupikirkan
Suatu saat nanti,suatu saan itu
Ramah,
Manis,
Sebahu,
Tak berponi,
Terkait dengan lagu yang itu
Diatas gereja waktu itu,memeluk angin melihatmu

......

selamat berjumpa lagi dengan puisi-puisi saya yang lainnya.. puisi di atas sudah selesai
puisi singkat dan punya ending.. untuk selanjutnya akan saya bagikan puisi saya yang lain..
cekidot :

sinyal keletihan 
by: yoanlogic

kalu dulu jadi memahat erat
kalau telah jadi yang sekarang
sebelum aku terlihat membosankan
atau jika kamu ingin pergi
jangan katakan mengulang-ulang
ini hanya mimpi...

lalu jika aku tenggelam
buatlah aku terbangun
di saat kehangatan tanganmu mengusap dahiku
semua yang indah tentang ini
aku harus mengerti
aku menghanyutkan bulan-bulanku
di dalam ninabobok tidurmu

lain lagi waktu ku ingat kau pergi
pagi-pagi ku beranikan tertatih
membuat semacam cerita cinta
yang menghasilkan gelisah panjang
dengan angan-angan tersebar

kelip kunang-kunang di antara mendung
berhayal-hayal sesal ...
sebab mungkin harus ada
seorang pembual menjadi bahan bualan

sayang
sayang
....pujangga yang riang

kesan dunia alam bawah sadar
menceritakan seorang putri maharani
dengan raut wajah terpaut
menarik gemulai melambai
sanjungan gaun erat melekat
mulai ratapi yang menatap
denganrambut terurai menjurai
biarkan rona ini tersipu
biarkan membual
menghayal, melihat

lari dan menari
suaranya lirih
luruh menangis, manis dengan manis
ini udara dunia dengan kangen menapak
menjadi nyanyian samar-samar
memulangkan api ke matahari
membuka pikiran ke dunia
putri maharani telah pergi
putra mahkota mengejar ujar
tinggal menghitung detik-detik sadar
disini api menjalar tanpa nalar
disana cahaya lencana tertawa
tak bersalah dengan tangan memeluknya

menanti sinyal-sinyal keletihan
burung-burung berguman kecil
seperti api, seperti mimpi itu lagi
mimpi tentang cemburu
menepuk punggung dengan indah
mengingat belaian di rambutmu
dengan tanganku di rambutmu

pulau-pulau cinta menunggu kita
terus menjadi mahakarya
menelan samudra menerawang
indah bermadah gundah
pagi yang manis
tentang pulau-pulau
tentang mimpi yang cemburu
suatu hari sekian jalan
saat terduduk
saat berjalan
saat menanti... hening
memeluk sendirian...

dengan jelas meruas ranting
lepas tercerai dua lerai
dengar menangguh selam
berbunga kusuma telungkup
 dengan jelas terlihat lagi
senyum maharani dari sini
tertawa tapi hanya diam
tawa abadi di tidur-tidur nyenyakku

mendengar blues merintih-rintih
tau masa-masa lalu dunia
menganggap semua tak pernah ada
tak bias.. tetap tak bias
kepulan ruas-ruas emas
kemilau mengerti
menyamarkan pandangan dengan bulan
mengajak jauh menyanyi-nyanyi
tak berani terjaga
nanti mimpi itu mati
nanti tangis itu menagih janji
melamun lebih dalam lagi
ini benar-benar halus
lembut bak wol bergulung-gulung

kita bisa memenangkan setangkai rangkai
dalam pesta party sepi
kita akan memenangkanya
menyambut uraian-uraian lembut
lari dan akhirnya berjalan menangkap kangen
terlampau tinggi…

seperti indah bukan milik tercantik
melirik hempasan-hempasan
dari kaca berulang-ulang
berjajar bertekuk lutut
minta banyak pada nyenyak

tak mencontek nama-nama bumi
tinta ini masih tak ingin mati
meminjam nada kereta kemuning
mendekap sendiri berjanji
kosong dari ucapan-ucapan
mengalah…

diam bukan gelisah
biar waktu beradu menyadarinya
langit biru berteriak
awan-awan dingin
awan-awan dingin
menari menuai buai

momen sepihak

sekarang baru semua mengerti
tentang ilalang kembang itu
membahas bekas ingatan
sehari tanpa sepasang moment
tingal tidur dan bermimpi
deruan tawa tentangmu
terpasang lagi hanya dari aku
tetap bermimpi
tak ada gambar kita
tatap hanya ada di lamunanku
mendengar guman rumput
seroja alam hayat
membersihkan lingkup wajahku mungkin kau cepat bias
tapi tak semudah itu aku, rancu berlalu
tebal wajah sunyi memekat
legam di jantungku
harus menangis aku bukan gadis
waktu dan saat sekali
pergi menulis nama sepihak
tangan masih takut tak membelai
tapi seharusnya telah sadar
bunyi kehilangan itu
telah lama tertawa lalu..










Share This Post :

0 komentar:

 
Copyright © 2015 langit biru. All Rights Reserved
Template Johny Wuss Responsive by Creating Website and CB Design